Malam ini malam purnama
Seperti biasa, aku mendengar kakek bercerita
Di depan bilik rumahnya
yang beranyam bambu tua
Ia bercerita tentang suatu ketika
Padhang mbulan, berpuluh tahun silam
Saat anak-anak menyambut gembira
Diiringi lagu dolanan
“Yo prakanca dolanan ing njaba
Padhang mbulan, padange kaya rina
Rembulane angawe-ngawe
Ngelingake aja padha turu sore”
Kata kakek,
Saat itu tanah di desa
masih ijo royo-royo, gemah ripah, loh jinawi, kerta raharja
Bunyi gareng pong dan thongleret masih bergemerisik di balik rimbun bambu bergoyang
Gemericik bening sungai masih mengalir deras
Anak-anak berceloteh tentang bahagia
Terkadang main perang-perangan
sambil membayangkan menjadi pasukan perjuangan Indonesia
Bersenjatakan senapan dari pelepah pisang
Dengan pekik merdeka yang iringi kemenangan pasukan
Mata sayu kakek menerawang
menembus awan yang menutupi bulan purnama,
Kakek melanjutkan,
Waktu itu langgar-langgar masih belum banyak
dan tak semegah masjid sekarang
Namun penuh dengan jama’ah orang sholat
Meski hanya berpelita lampu minyak
dan beralas tikar pandan
Suara tadarus terdengar hingga larut malam
Ketika itu,
Tak mengenal hamburger dan pizza
Belum ada handphone apalagi facebook dan twitter
Tapi sepiring ketela rebus dan tembang padhang bulan
terasa istimewa
Saat larut mulai beranjak,
Kakek menghela nafas panjang
Padhang mbulan kini,
terasa sepi
Semua orang sibuk di depan hape dan tivi
Kadang tak peduli kanan kiri
Lagu dolanan pun tak terdengar lagi
Tanah jadi tandus
Masjid jadi suwung
Sungai semakin keruh
Mungkin orang-orang telah lupa,
Padhang bulan tak sekadar lagu dolanan
Tapi tembang kebersamaan
Tentang cita-cita, tentang cinta, tentang impian
Purnama tertutup kelabu,
Aku tertidur
Dan samar-samar kudengar Kakek mengakhiri ceritanya dengan nembang
“dak lela-lela legung
Cep menengan anakku sing bagus
Dak kudang bisa urip mulya
Dadiya pandeganing bangsa”
17 April 2012
di sebuah ruangan hibernasi
SMP IT Cahaya Insani Temanggung
